Ibuku menjagaku seharian penuh, dan itu terulang setiap hari hingga saat ini, tanpa ada alasan, tanpa ada keluhan capek satu kali pun. Mirisnya aku sering kali membantah ibuku ketika ia menyuruh sesuatu, dengan alasan capek karena baru saja pulang sekolah, mengingat semua hal itu membuat hatiku tersayat-sayat, layaknya ada seseorang yang ingin mencoba merobek lapisan luar hati ini hingga aku menangis dengan sendirinya. Kini ku jauh, jangankan memeluknya, untuk menatap kedua iris matanya pun aku tak mampu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa Aku? Sebuah Kejujuran Yang Rahasia